
Pada masa lalu, orang-orang berkeyakinan bahwa penglihatan terjadi sebagai akibat dari sinar yang keluar dari mata yang menimpa obyek suatu benda, sehingga benda itu dapat terlihat oleh mata. Namun setelah adanya perkembangan ilmu pengetahuan, khsususnya yang berkaitan dengan ilmu fisiologi mata, keyakinan itu, dipastikan keliru.
Penelitian yang dilakukan berdasarkan analisa organ mata membuktikan bahwa penglihatan tidak hanya terjadi sebagai akibat dari cahaya yang keluar dari mata dan jatuh menimpa obyek suatu benda, tapi juga didasarkan pada sinar yang dipantulkan oleh obyek tersebut kepada mata.
Proses pemantulan sinar itu, dalam setiap gelombang sinarnya,
berlangsung berdasarkan salah satu warna dari tujuh warna pembentuk
sinar matahari, yaitu merah, biru, kuning, violet, oranye, hijau dan
biru. Tanpa bantuan sinar matahari proses penglihatan tidak bisa
dilakukan.
Karenanya, sinar matahari merupakan unsur terpenting bagi proses
penglihatan. Dalam keadaan gelap gulita, seseorang tidak dapat melihat
sesuatu, karena gelombang atau radiasi warna sinar matahari tidak dapat
tertangkap oleh retina, sehingga mata tidak dapat mengambil sinar
tersebut untuk melihat obyek benda yang ada di hadapannya.
Atas dasar ini, para ilmuwan berusaha untuk menemukan solusi atas
problema ini, dengan meniru sistem penerangan di alam semesta, yaitu
dengan menciptakan sistem penyinaran pengganti sinar matahari, sehingga
ketika sinar matahari tidak terlihat, manusia masih dapat melihat dengan
bantuan sinar buatan tersebut. Dan sebagai hasil dari usaha mereka,
kita mendapatkan beragama jenis alat penyinaran, seperti beragam lampu
listrik yang diciptakan berdasarkan teknologi tinggi.
Dengan adanya sinar buatan ini atau sinar matahari, proses
penglihatan pun bisa terus berlangsung. Secara singkat, proses
penglihatan terjadi, ketika suatu sinar yang membawa sinyal dari suatu
obyek benda menimpa retina mata dan menggerakkan protein yang terdapat
di permukaannya.
Oleh protein ini, sinyal tersebut dikirim melalui sel saraf
penglihatan ke pusat saraf penglihatan yang terdapat di otak untuk
menerjemahkan sinyal yang diterimanya dalam bentuk perintah yang harus
dikerjakan oleh organ tubuh, sebagai respon atas sinyal tersebut.
Tentang hakikat dari mekanisme penglihatan ini dan peranan penting
sinar matahari, belum diketahui oleh orang-orang, kecuali setelah adanya
kemajuan di bidang fisiologi mata pada era sains ini. Padahal Alquran
telah memberikan petunjuknya tentang hal ini, sejak 14 abad yang lalu.

Dalam surah Al-Israa ayat 12, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu (sinar) yang menerangi."
Ungkapan yang menyatakan bahwa siang berfungsi untuk memberikan
penerangan dalam firman Allah "dan Kami jadikan tanda siang itu (sinar)
yang menerangi" menegaskan hal di atas. Sebagai buktinya, kita dapatkan
penggunaan kata subyek ‘mubshir’ yang mengandung arti bahwa siang adalah
sumber bagi sinar tersebut.
Tentunya hal ini tidak bertentangan dengan peranan besar yang
dimiliki mata dalam proses penglihatan. Karena mata inilah yang menerima
dan menangkap sinar yang jatuh dan mengantarkan sinyalnya ke pusat
saraf penglihatan yang terdapat di otak melalui sel-sel saraf
penghantar.
Dalam surah Al-Haaqah ayat 38-39, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Dalam surah Al-Haaqah ayat 38-39, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat. Dan dengan apa yang tidak kamu lihat."
Kalau kita perhatikan, ayat di atas merupakan bukti kuat bagi
peranan penting yang dimiliki mata dalam proses penglihatan. Di samping
juga merupakan bukti bahwa mata memiliki kemampuan untuk menerima sinar
yang ditangkap oleh retinanya, sehingga ia dapat melihat. Sebagaimana
yang dimaksud oleh bagian ayat: "dengan apa yang kamu lihat".
Sekaligus bukti bahwa mata tidak mampu untuk menangkap jenis sinar
yang lain, yang terlalu kuat atau terlalu lemah, sehingga ia tidak mampu
untuk melihat. Ini sesuai dengan bagian ayat yang terakhir: "Dan dengan apa yang tidak kamu lihat."
Oleh: DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal
0 komentar:
Post a Comment