"spread the knowledge or teach a science, although only one verse"
Breaking News
Loading...
Sunday, 8 September 2013

Apabila dalam penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa rasa takut atau fobia pada lubang kecil adalah karena raksi bawah sadar, menurut penelitian terbaru, hal tersebut disebabkan karena perilaku nenek moyang manusia.

Fobia terhadap lubang kecil atau disebut juga dengan istilah trypophobia dipercaya banyak menghinggapi banyak orang di seluruh dunia.

Seseorang pengidap trypophobia akan bergidik, jijik sampai merasa tidak ingin melihat obyek atau gambar yang memiliki banyak lubang-lubang kecil atau juga bintik-bintik kecil yang rata.

Dalam penelitian sebelumnya mengatakan bahwa rasa jijik yang timbul akibat melihat benda penuh lubang adalah reaksi bawah sadar seseorang yang terjadi karena rasa takut akan penyakit tertentu. Contohnya kondisi cacar air yang membuat kulit meninggalkan bekas bintik-bintik kecil yang cukup menjijikkan.

Namun, dikutip dari Daily Mail (06/09), trypophobia merupakan bawaan yang diturunkan dari generasi ke generasi bahkan dimulai dari ketika era manusia purba.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Essex ini menyebutkan bahwa di zaman dahulu, orang-orang 'didoktrin' untuk takut terhadap hewan-hewan buas atau pemangsa dengan tanda-tanda khusus.

Contohnya saja, gurita dengan tentakel berbentuk lubang-lubang atau hewan-hewan lainnya yang mengancam nyawa manusia. Bahkan sebuah sarang lebah pun wajib ditakuti karena merupakan simbol dari sang lebah yang sengatannya dapat membuat sakit pada manusia.

Dikarenakan 'ulah' para manusia zaman dahulu tersebut, maka secara tidak sadar terbawa dari tahun ke tahun sampai sekarang ini.

0 komentar:

Post a Comment