"spread the knowledge or teach a science, although only one verse"
Breaking News
Loading...
Thursday, 17 October 2013

Ayunan tongkat tak berhenti.  Jerit dan suara hantaman menjadi ritme yang berulang setiap batang kayu keras meninggalkan memar di kulit yang hitam. Sang Pria bagai kesurupan menghajarkan tongkatnya di sekujur tubuh sang perempuan. Tapi tak ada tangis mohon ampun dari mulutnya, melainkan permintaan agar terus memukul. Sampai darah menetes, bercampur debu merah di Omo River Valley.

Anda - khususnya kaum perempuan, mungkin terkesiap dan merasa perih membaca kisah 'penyiksaan' tersebut. Hal ini sangat bertentangan dengan kesadaran modern yang sangat melindungi hak kaum perempuan.
 
 
Bagaimanapun, inilah tradisi suku Hamar di Etiopia. Mereka hidup di sebuah alam yang panas, gersang dan tandus. Jika mengutip hukum seleksi alam, hanya yang kuat akan bertahan. Budaya suku Hamar akrab dengan kerasnya tantangan alam.

Berdasar pada laporan fotografer Perancis Eric Lafforgue yang foto-fotonya terpampang di sini, kaum pria boleh memiliki istri lebih dari satu. Bagi perempuan Hamar, pemukulan tidak hanya bagian dari ritual inisiasi - tetapi juga lazim dalam kehidupan sehari-hari sampai setidaknya dua anak telah lahir.

"Para wanita Hamar yang bukan istri pertama mengalami kehidupan yang benar-benar keras, dan mereka lebih seperti budak daripada istri," ungkap Lafforgue. Istri ke-2 dan seterusnya bertanggungjawab pada kebutuhan air bagi keluarga dan tanaman di ladang.
 

 
 
Walau tampak begitu kejam, perempuan-perempuan Hamar seolah tak terganggu dengan pola hidup mereka yang keras. Lewat foto-foto Lafforgue, tergambar keceriaan tetap mengembang dari mereka. manik-manik penuh warna berbaur dengan bekas luka di kulit menjadi tontonan eksotis di bawah teriknya matahari Afrika.

Apakah begitu berkuasanya kaum pria Hamar? Nyatanya mereka mengalami tantangan yang sama.

Ternak adalah segalanya bagi suku Hamar - terutama kaum pria. Ternak dibutuhkan untuk kelangsungan hidup, meneruskan keturunan ke generasi berikut. Kaum pria membutuhkan ternak sebagai mas kawin untuk menikah. Tak hanya itu, ada sebuah ritual yang menjadi pertanda apakah seorang lelaki bisa menjadi pria dewasa dan siap menikah, atau harus menanggung malu.

 
 
Dalam ritual proses pendewasaan lelaki, suku Hamar melakukan upacara lompat sapi. Kira-kira 15 sapi berjejer, diolesi dengan kotoran untuk membuat mereka licin.  Sang pemuda harus bisa melompati semuanya. Jika dia gagal , dia tidak bisa menikah dan akan dipukul oleh wanita yang menonton.

"Sementara anak laki-laki berjalan di atas sapi , perempuan Hamar menemaninya. Mereka melompat dan bernyanyi", kisah Lafforgue. Semakin banyak terdapat luka penuh darah, semakin besar rasa cinta itu tumbuh antara perempuan dan pemuda tersebut.

***
 
Secara perlahan kehidupan modern (atau westernisasi?) merambah Ethiopia, tak terkecuali kaum Hamar. Dunia sepak bola menjadi kegemaran baru. Kini, makin banyak pemuda Hamar mengenakan kaus Arsenal, Chelsea, atau MU. Mereka tergila-gila dengan sepak bola Inggris.

Pertanda budaya warisan mulai ditinggalkan? Jika memang budaya tersebut tidak cocok dengan falsafah hidup modern, adakah yang masih bisa diwarisi?





Sumber:
dailymail.

0 komentar:

Post a Comment