"spread the knowledge or teach a science, although only one verse"
Breaking News
Loading...
Thursday, 16 May 2013

 Villa Epecuen, dulu dipuja sekarang ditinggalkan
Kembali ke tahun 1920, sebuah desa wisata bernama Villa Epecuen didirikan di sepanjang pantai Lago Epecuen, sebuah danau garam sekitar 600 kilometer di barat daya Buenos Aires, Argentina.

Lago Epecuen sepintas terlihat seperti kebanyakan danau gunung lainnya, kecuali dalam satu hal. Danau ini memiliki kadar garam kedua tertinggi di dunia setelah Laut Mati, dan sepuluh kali lebih tinggi dari kadar garam di laut manapun.

Efek terapi yang dimiliki oleh Lago Epecuen telah terkenal selama berabad-abad. Sebuah legenda konon mengatakan bahwa danau itu terbentuk oleh air mata seorang pemimpin besar yang menangis karena penyakit yang diderita kekasihnya.

Dikatakan bahwa Epecuen - atau berarti musim semi abadi - dapat menyembuhkan depresi, rematik, penyakit kulit, anemia, atau bahkan mengobati diabetes. Pada akhir abad kesembilan belas, beberapa orang mulai tinggal dan berkunjung Villa Epecuen dan mendirikan tenda di tepi danau.

Villa Epecuen yang awalnya hanyalah sebuah desa pegunungan yang terpencil kemudian menjadi sebuah resor wisata yang ramai. Desa ini segera membangun jalur kereta api yang terhubung ke Buenos Aires. Tak lama, wisatawan dari seluruh Amerika Selatan dan dunia datang berbondong-bondong kemari dan pada tahun 1960, sebanyak 25.000 orang datang setiap tahunnya untuk berendam dalam air garam yang menenangkan.

Pengunjung kota ini puncaknya pada tahun 1970 dengan lebih dari 5.000 orang berdatangan ke Villa Epecuen. Hampir 300 usaha berkembang di kota tersebut, termasuk hotel, hostel, spa, toko-toko, dan museum. Hampir 300 usaha berkembang, termasuk hotel, hostel, spa, toko-toko, dan museum.

Namun, seiring berjalannya waktu, curah hujan meningkat sehingga membuat danau mulai membengkak. Pada 10 November 1985, volume air meningkat dan menerobos bendungan yang mengakibatkan kota terendam setinggi empat meter. Pada tahun 1993, banjir menutup kota itu hingga setinggi 10 meter.

Selama 25 tahun kemudian, pada tahun 2009, curah hujan mulai menurun dan air mulai surut. Villa Epecuen pun mulai kembali ke permukaan. Sayangnya, tidak ada yang kembali ke kota, kecuali pria 81 tahun bernama Pablo Novak yang kini menjadi satu-satunya penduduk di Villa Epecuen.

Pada tahun 2011, fotografer AFP Juan Mabromata mengunjungi reruntuhan Villa Epecuen dan bertemu dengan Pablo. Sekembalinya dari Villa Epecuen, dia mempublikasikan gambar-gambar ini.



0 komentar:

Post a Comment