"spread the knowledge or teach a science, although only one verse"
Breaking News
Loading...
Wednesday, 5 June 2013

Ketika sang raja game online sekarat
Meskipun banyak pengguna, tak menjamin sebuah perusahaan IT mampu bertahan. Hal ini yang terlihat jelas dari Zynga. Penyedia berbagai permainan online berbasis jejaring sosial ini, kebanyakan tentang poker online, harus merasionalisasi kembali bisnisnya karena terus merugi.
Hal ini terlihat jelas dari upayanya yang merumahkan 520 pekerja. Ini merupakan seperlima atau delapan belas persen dari seluruh total pekerja yang berada di sana.
Hal ini tak lain dikarenakan semakin memburuknya bisnis mereka yang menyediakan berbagai permainan online di Facebook. Dikatakan, pengguna di jejaring sosial ini tak mampu lagi menghasilkan uang untuk Zynga padahal sudah banyak cara yang mereka gunakan.
Diketahui, keuntungan Zynga sendiri memang menurun akibat hal ini. Tercatat, ada pengurangan keuntungan hingga 12 persen. Hal ini membuat mereka harus mencatat harga saham terendah hingga USD 3 atau sekitar Rp 30 ribu per lembarnya.
Bagi perusahaan besar sekelas Zynga, hal ini tentunya merupakan kerugian besar. Apalagi, mereka juga dituntut untuk membayar pajak yang lumayan besar jumlahnya.
Dalam D11, Mark Pincus selaku pendiri Zynga sendiri menyebut hal ini sebagai masa transisi bagi mereka. Dikatakan, hal ini bukanlah yang pertama kali mereka alami dalam sejarah berdirinya perusahaan ini.
Patut diketahui, Zynga adalah penyedia konten game online yang lekat dengan praktik judi online. Hal ini terlihat dari adanya game poker online yang banyak mereka tawarkan dalam jejaring sosial Facebook.
Sumber: TechCrunch dan AllThingsD

0 komentar:

Post a Comment