"spread the knowledge or teach a science, although only one verse"
Breaking News
Loading...
Saturday, 8 June 2013

Bayi yang belum bisa berbicara terkadang menggumamkan kata 'mama'. Jika diperhatikan, bayi mengucap mama tidak hanya kepada ibunya tetapi juga kepada ayahnya. Fenomena bayi menggumamkan mama ini jamak terjadi di semua negara. Mengapa demikian?


Menurut studi yang dilakukan oleh ahli bahasa dari Rusia, Roman Jakobson, mama adalah sebuah kata yang universal. Kata ini menjelaskan seorang perempuan yang memberikan cinta meski keadaan sekitar sedang semerawut. Demikian dikutip dari The Week, Rabu (15/5/2013).

Namun kata mama yang diucapkan bayi bukan muncul karena cinta. Bayi mengucap kata itu karena mulut kecilnya yang belum bisa mengucap kata lain dan karena payudara ibunya, di mana dia mendapatkan air susu ibu (ASI) sebagai makanan.

Jakobson menjelaskan bahwa vokalisasi termudah bagi manusia adalah dengan membuka mulutnya sehingga terdengar suara vokal. Nah, bayi membuat suara vokal saat menangis. Ketika mereka mencoba membuat suara-suara lain, maka bayi akan mengucap konsonan yang mudah baginya.

Biasanya bayi akan mulai dengan konsonan yang dikeluarkan dari mulut dengan cara mengatupkan bibirnya. Lalu muncullah suara labial seperti / m / / p / / b /. Ketika bayi menggunakan energinya untuk mengeluarkan vokal dari mulutnya yang terdengar adalah 'mmm'. Lalu saat bayi dalam keadaan santai dan membuka mulutnya, biasanya yang terdengar adalah 'ah', apalagi itulah suara vokal yang paling mudah. Itu makanya pengulangan alami suara bayi yang sering terdengar adalah 'ma-ma' atau 'ba-ba', 'pa-pa', dan seterusnya.

Lalu mengapa bayi lebih suka mendengungkan 'm' ketimbang 'p' atau 'b'? Menurut Jakobson hal ini dikarenakan payudara ibunya. Suara 'm' adalah suara yang paling gampang dilafalkan mulut bayi saat dipeluk di dekat dada ibunya yang nyaman. Bahkan saat sudah dewasa, manusia kerap mengasosiasikan kata 'mmm' dengan sesuatu yang enak dan bagus.

Saat bayi memanggil ayahnya dengan 'mama' dan menjadi kesal karena ayahnya tidak seketika berubah menjadi mama, sebenarnya dia tidak benar-benar meminta ibunya datang. Bayi hanya tidak mengenal dada rata dan berbulu milik sang ayah.

Penelitian Jakobson lebih dulu dilakukan sebelum munculnya gerakan feminis sehingga tidak banyak menyentuh peran laki-laki sebagai pengasuh utama bayi. Namun bisa diasumsikan bahwa pola perkembangan berbicara pada bayi adalah sama, namun pada perkembangannya juga diatur dengan melalui bimbingan orang tua. Itulah makanya kemudian bayi mengucapkan kata selain 'mama' yang merujuk pada makanan.

Seiring perkembangan fisik bayi, termasuk pertumbuhan gigi, orang tua terus mendorong kemampuan berbicara bayi. Hingga akhirnya mereka tahu bahwa kata 'mama' dan 'papa' digunakan untuk memanggil orang tuanya.

0 komentar:

Post a Comment